Kisah Bayi Simpanse yang Diasuh Bersama Bayi Manusia

Posted by Nge-Baca on Selasa, 13 Oktober 2015

Kita semua pasti telah mengenal kisah Tarzan, seorang anak manusia yang sejak bayi tidak memiliki kontak dengan manusia dan diasuh oleh monyet hingga dewasa, sehingga ia berprilaku seperti monyet dan mengira dirinya adalah monyet. Nah dibawah ini adalah kejadian nyata kebalikan dari kisah Tarzan ... ^_^



Pada tanggal 26 Juni 1931, psikolog komparatif Winthrop Niles Kellogg dan istrinya menyambut kedatangan penghuni baru rumah mereka: bukan bayi manusia, tapi bayi simpanse. Pasangan ini berencana mengasuh dan membesarkan bayi simpanse, yang bernama Gua, bersama bayi laki-laki mereka sendiri, Donald. Seperti yang dijelaskan dalam The Psychological Record, ide ini adalah untuk melihat bagaimana lingkungan mempengaruhi perkembangan. Bisakah simpanse tumbuh berperilaku seperti manusia? Atau bahkan berpikir ia adalah manusia?

Sejak jadi mahasiswa, Kellogg telah bermimpi melakukan percobaan seperti itu. Dia terpesona oleh kisah anak-anak liar, atau mereka yang dibesarkan tanpa kontak dengan manusia, seringkali di alam (seperti kisah tarzan). Karena meninggalkan seorang anak manusia di hutan atau padang gurun sendirian adalah perbuatan yang tidak etis dan tak bermoral, Kellogg pun kemudian memilih untuk bereksperimen dengan skenario terbalik, yaitu membawa bayi binatang ke dalam peradaban.

Untuk sembilan bulan ke depan, selama 12 jam sehari dan tujuh hari seminggu, Kelloggs dan istrinya melakukan tes tak kenal lelah dari Donald dan Gua.


Donald berusia 10 bulan pada awal percobaan; sedangkan Gua adalah simpanse berusia tujuh setengah bulan, yang diperoleh dari pusat primata lokal. Mereka dibesarkan di rumah yang sama, dengan cara yang sama. Keduanya diberi makan, pakai popok, dan diajarkan bahasa dasar dan keterampilan motorik dengan cara yang dengan semua orang tua mengajar anak-anak mereka. Dokter Kellogg, mempelajari bagaimana kedua bayi berkembang, dan secara berkala memberi mereka tugas untuk diselesaikan.

Untuk sementara, Gua unggul pada beberapa tes dibandingkan dengan Donald.

Gua tumbuh, secara fisik, lebih cepat dari Donald. Gua juga lebih cepat meniru perilaku manusia, memakai sepatu, membuka pintu menggunakan pegangan pintu, dan makan sendiri dengan piring, gelas kaca dan sendok. Simpanse juga mengungguli manusia pada tes fisik.





Namun pada akhirnya, Gua terbentur pada dinding kognitif: Tidak ada jumlah pelatihan atau pengasuhan yang bisa mengatasi kenyataan bahwa, secara genetik, dia simpanse. Dengan demikian, seperti yang ditulis penulis pada The Psychological Record, mengenai percobaan Kelloggs

"Percobaan ini berhasil lebih baik daripada studi-studi yang pernah dilakukan sebelumnya dalam menunjukkan keterbatasan faktor hereditas (keturunan) pada organisme terlepas dari peluang lingkungan serta keuntungan perkembangan yang bisa dibuat di lingkungan yang diperkaya."

Yang benar-benar dikhawatir Kelloggs adalah bahwa Donald tidak tampak untuk tertarik mengalahkan Gua dalam uji verbal. Meskipun Donald lebih baik dari Gua, ia tertinggal di belakang bayi lainnya dalam berbicara. (Untungnya, Donald lebih baik dalam latihan pergi ke toilet daripada Gua yang tidak melakukannya). Akhirnya, Donald mulai meniru jeritan kelaparan naluriah yang biasa dilakukan Gua. Ini menyebabkan Kellogs dan istrinya tidak lagi tertarik menggunakan bayi mereka sebagai kontrol. Percobaan dihentikan setelah sembilan bulan, dan Gua dikembalikan ke pusat primata di mana Kelloggs pernah mengadopsinya.

Singkatnya, saat Gua tidak menunjukkan tanda-tanda belajar bahasa manusia, kakaknya Donald telah mulai meniru suara Gua. Retardasi bahasa pada Donald inilah yang menyebabkan Dr Kelloggs untuk mengakhiri percobaannya.


Baca Juga:








Source: smithsonianmag.com

Blog, Updated at: 09.10

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.